Selasa, 27 Agustus 2013

Di Amerika, Gunawan Bertemu "Manusia Ular"

Rudi Gunawan (depan) berpasangan dengan Antonius BS di acara "Candra Wijaya Cup" pekan lalu. | Tjahjo Sasongko/Kompas.com

JAKARTA, Kompas.com — Kejenuhan pada dunia bulu tangkis justru mendorong pahlawan Piala Thomas, Rudi Gunawan pindah ke Amerika.

Gunawan merupakan bagian dari "winning teams", skuad Indonesia dekade 1990-an yang menguasai Piala Thomas antara 1994-2002, merebut medali emas Olimpiade 1992-2000, dan banyak gelar lainnya.

Sebagai pemain spesialis ganda, Gunawan sendiri pernah merebut medali perak Olimpiade Barcelona 1992, menjadi juara ganda putra All England 1992 dan 1994, serta menjadi juara dunia pada 1993. Ia juga memperkuat tim Piala Thomas Indonesia pada 1992-1996. Setelah tampil di Olimpiade Atlanta 1996, ia memutuskan mengundurkan diri.

"Tidak tahu, saat itu saya tiba-tiba merasa sudah pada titik jenuh pada bulu tangkis. Bahkan melihat raket saja rasanya sudah tidak berhasrat sama sekali," kata Gunawan saat pulang ke Indonesia, pekan lalu. Gunawan bersama pasangannya, Eddy Hartono, mendapat penghargaan sebagai ganda putra legendaris dari mantan pemain ganda putra nasional, Candra Wijaya.

Di Olimpiade Atlanta 1996, langkah Gunawan terhenti oleh pasangan Malaysia, Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock. "Sebenarnya sebagai pemain saya selalu harus berprinsip menang atau kalah itu hal biasa. Namun saat itu, saya tiba-tiba merasa ini adalah pertanda bagi saya untuk berhenti sebagai pemain," kata Gunawan.

Gunawan yang berkecimpung di dunia bulu tangkis sejak SMP merasa inilah saat yang tepat untuk meninggalkan dunianya itu. "Saat itu saya tiba-tiba merasa kehilangan gairah pada bulu tangkis. Bahkan melihat raket pun saya tidak mau," kata Gunawan.

Ini jelas bukan keputusan yang mudah, terutama buat mantan pasangannya. Namun, buat Gunawan ini adalah satu-satunya jalan ke masa depan. "Saya katakan kepada pelatih dan pasangan saya bahwa sekarang saatnya mereka berjuang tanpa saya. Mereka harus menemukan pasangan lain yang sehati dan sesuai dengan standar mereka. Ini adalah takdir yang sudah Tuhan gariskan buat saya," kata Gunawan mengenang saat itu.

Saat itu, Gunawan memang telah berusia 30 tahun. Ia juga telah berkeluarga dan menikah dengan Febijane Nita Lumingkewas, wanita yang dijumpainya saat bertandang ke kedutaan besar Indonesia di Malaysia pada 1989. "Nita pulalah yang memberanikan diri saya untuk mengambil langkah besar setelah ternyata kehidupan di luar memang tak sejelas kondisi dalam pelatnas bulu tangkis," kata Gunawan.

Saat itu religiusitas Gunawan memang sedang menanjak. "Saya dibaptis sebagai seorang Kristen pada 1994 setelah selama puluhan tahun saya seperti seorang yang tidak memiliki pegangan," kata Gunawan.

Dengan keyakinan seperti ini pulalah Gunawan mengiyakan saja ketika Nita mengajak mereka sekeluarga pindah ke Amerika pada 1999. "Saat itu saya blank saja. Tidak tahu akan jadi apa dan hidup seperti apa di Amerika," kata Gunawan.

Ia mengaku tidak pandai berbisnis karena hampir separuh hidupnya diisi dengan bulu tangkis. "Sulitnya, saya juga sudah kehilangan gairah terhadap bulu tangkis. Jadi ketika ada seorang pengusaha asal Thailand menawarkan saya untuk mengelola klubnya di Amerika, saya langsung tolak," kata Gunawan.

Nyatanya, keluarga Gunawan dan Nita hingga kini masih tinggal di wilayah Orange County, California, AS. Gunawan mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang pendeta dan mendirikan "jemaat" di sana. "Sejak usia belasan tahun saya memang diramal akan menjadi seorang pendeta. Hal yang selalu saya sangkal, bahkan si peramal itu pernah saya usir. Tetapi kalau sekarang saya selalu mengatakan: rencana Tuhan tidak pernah ada yang tahu,"

Gunawan bahkan kemudian ikut sekolah pendeta di Amerika dan lulus. Ia menulis semua pengalaman religiusnya selama menjadi pemain bulu tangkis atau masa-masa setelah itu dalam skripsinya. Skripsi ini kemudian dibukukan dengan judul Redemption: A Story from Darkness to Light dan ditulis kembali oleh Lisa F Siregar pada 2011.

"Saya merasa pengalaman saya sebagai pendeta di Amerika tidak kalah serunya dibandingkan saat saya masih aktif sebagai pemain. Saya pernah melakukan upacara pengusiran roh jahat pada salah satu jemaat saya. Si korban ini tiba-tiba menatap saya dan bergerak keliling ruangan dengan 'ngesot' seperti ular sambil mengeluarkan suara berdesis," katanya.

Pengalaman religius itu ia rasakan sendiri saat putra ketiganya masih dalam kandungan. "Saat itu dokter mengatakan istri saya hamil anggur. Kandungannya hanya berisi air. Padahal itu sudah jalan empat bulan. Saya katakan tidak ingin digugurkan, beri kami kesempatan satu bulan," kata Gunawan.

"Dokter itu marah karena kalau ternyata salah, ia bisa dinyatakan melakukan malapraktik. Nyatanya sebulan kemudian kami kembali kepadanya dan istri saya ternyata mengandung seorang anak laki-laki," kata Gunawan. keluarga Gunawan memiliki empat putra dan satu putri.

Namun, dalam perjalanan itu pulalah Gunawan mendapat penyadaran untuk tidak melupakan sama sekali dunia bulu tangkis. "Pada saatnya, saya merasa kemampuan bulu tangkis adalah anugerah dari Tuhan, mengapa harus saya matikan? Anugerah ini akan lebih bermanfaat bila saya sebarkan bagi banyak orang."

Karena itulah, Gunawan saat ini aktif membina para pemain muda AS. "salah satunya Eva Lee yang kini merupakan pemain nasional AS," kata Gunawan. Ia kini aktif memberi teknik-teknik dasar bulu tangkis kepada para peminat muda. "Ini penghasilan saya saat ini, karena saya tidak pernah mendapat penghasilan dari gereja."

Di usia 47 tahun, Gunawan mengaku tidak akan pernah melupakan bulu tangkis. "Pada masa lalu saya mendapat semuanya dari bulu tangkis. Bahkan nama saya Rudi pun didapat dari bulu tangkis. Nama saya sebenarnya hanya Gunawan, tetapi karena bertanding di luar negeri harus ada first name, oleh orang IBF (kini BWF) dicantumkan nama 'Rudi' seperti Rudy Hartono. Akhirnya, sekalian saja saya sahkan sebagai nama saya."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar