Selasa, 27 Agustus 2013

Mutu Dokter Merosot, Bukti Karut Marut Pendidikan di Indonesia


REP | 27 August 2013 | 10:54 Dibaca: 74    Komentar: 1    1

Coba tanyakan pada anak Anda, “Kalau sudah besar mau jadi apa?” Sampai saat ini, masih banyak anak Indonesia yang terdoktrinasi ingin menjadi dokter. Ya, doktrinasi karena cita-cita anak kitu sudah dibatasi orangtuanya sejak kecil. Biasanya jawaban dokter, pilot, dan presiden menjadi jawaban yang paling sering kita dengar.
Persaingan masuk fakultas kedokteran pun tetap ketat setiap tahunnya. Tengok saja tingkat keketatan untuk memasuki Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Jalur SBMPTN (Seleksi Tertulis) tahun 2013 lalu. Dari 45 kursi yang disediakan, peminat FKUI di tahun sebelumnya mencapai 2994 orang. Rasio keketatannya mencapai 1,5%, artinya hanya ada 1 orang diterima dari 100 peserta yang memilih FKUI. Keadaan yang hampir serupa, juga dapat kita temui di FK pada Perguruan Tinggi favorit lainnya, seperti di Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Saat ini, diperkirakan terdapat 72 fakultas kedokteran di berbagai daerah di Indonesia. Sayangnya, kuantitas yang  banyak tidak dibarengi dengan penyetaraan kualitas. Beberapa fakultas kedokteran swasta di daerah masih sangat buruk mutunya. Bahkan, ada yang tidak memiliki rumah sakit sendiri untuk praktik calon lulusan dokter. Padahal, tahapan kurikulum pendidikan di fakultas kedokteran secara umum terbagi menjadi 3, yaitu tahap General EducationMedical Sciences, dan Clinical Practice.
Pada tahap Clinical Practice, ketersediaan rumah sakit merupakan infrastruktur wajib yang diperlukan mahasiswa kedokteran untuk praktek langsung dengan pasien. Pengetahuan yang didapatkan mahasiswa kedokteran selama pre-klinik diterapkan di klinik. Kesempatan bertemu pasien langsung, dan belajar menatalaksana pasien dari awal hingga akhir merupakan pengalaman yang akan menjadi bekal penting untuk menjalani kehidupan sebagai dokter. Terkadang teori yang telah didapat, aplikasinya tidak sama di lapangan. Karena itu klinik mengajarkan mahasiswa untuk menjadi kreatif, fleksibel, dan adaptif dalam situasi apapun. Klinik juga mengajarkan mahasiswa untuk melatih komunikasi yang baik, dan menjalin hubungan profesional disertai empati kepada pasien.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Zainal Abidin, di sela acara Indomedica Expo dan Seminar Urun Rembug Nasional Rangkaian Hari Bakti Dokter Indonesia (26/8/2013), mengeluhkan kemerosotan mutu lulusan dokter belakangan ini. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa IDI tengah melakukan pendampingan bagi sekitar 2.500 lulusan dokter yang belum mendapatkan sertifikasi kompetensi karena gagal lulus dalam Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Bahkan diantara peserta bimbingan, ada yang harus mengulang uji sertifikasi kompetensi sampai 19 kali.
Dr. Zainal menyatakan bahwa perlu dilakukan peninjauan terhadap beberapa fakultas kedokteran di daerah yang kurang bermutu. Beberapa fakultas kedokteran didaerah terindikasi tidak mampu memberikan materi kuliah yang memadai. Ada fakultas kedokteran yang setiap tahun berani menerima lebih dari 600 mahaiswa baru, padahal hanya memiliki 100 dosen. Bahkan ditemukan pula fakultas kedokteran yang menerima mahasiswa yang berasal dari jalur IPS.
Merosotnya Kualitas Input Mahasiswa
Kemerosotan mutu dokter bisa juga disebabkan oleh merosotnya kualitas input mahasiswa baru fakultas kedokteran. Hal ini terkait dengan tingginya kuota penerimaan mahasiswa baru melalui Jalur Undangan Rapor. Pasal 53 B PP Nomor 66 Tahun 2010 mengatur bahwa satuan pendidikan tinggi wajib menjaring peserta didik baru program sarjana melalui pola penerimaan secara nasional (baca: SNMPTN) paling sedikit 60% (enam puluh persen) dari jumlah peserta didik baru yang diterima. Dan mulai tahun 2013 lalu, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) hanya menggunakan mekanisme Jalur Undangan berdasarkan prestasi akademik selama di SMA.
Tak pelak, mark-up nilai rapor terindikasi terjadi selama di SMA. Karena prinsip Jalur Undangan ini adalah mengambil nilai terbaik, maka sekolah bisa jadi termotivasi untukmengobral nilai. Sekolah bisa saja terdorong berpartisipasi aktif memanipulasi nilai demi meningkatkan keterserapan alumninya di Perguruan Tinggi favorit. Belum lagi masalah kebocoran Ujian Nasional. Keadaan ini tentu dapat berdampak pada merosotnya mutu pendidikan secara keseluruhan. Tidak hanya di fakultas kedokteran, tapi juga di fakultas-fakultas lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar